Belum pernah ia merasakan kemarahan sekaligus kesedihan yang begitu hebat. Sebulir air mata membasahi pipinya yang berlesung pipit itu. Beranjak dia dari sofa yang nyaman dan berkain velvet keemasan itu dan melihat jam dinding yang turut ikut serta menjadi saksi bisu pertengkarannya dengan orang yang dicintainya itu. Dengan langkah gontai, dia menuju tempat peristirahatannya, tempat di mana dia bias bebas meluapkan rasa emosi tanpa malu, tempat di mana dia biasa melewatkan hari-hari sedihnya dengan sunyi , satu-satunya tempat yang membuat dia merasa nyaman dengan segala kekurangan dan ketidakpuasan yang dia miliki dari kehidupan fana ini.
Dihempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Diambilnya guling dan dirangkulnya erat erat seperti tidak mau kehilangan sesuatu lagi dari hidupnya. Dibenamkan kepalanya ke bantal dan meledaklah semua emosi yang dia benamkan selama dua hari terakhir ini. Air mata mengalir deras bak hujan deras turun dari langit yang membawa berkah bagi petani. Tiada yang mampu melukiskan rasa sakit hati yang dialami seorang wanita ketika dirinya dikhianati dan dibohongi oleh orang yang dicintai sepanjang hayatnya. Tiada yang mampu menandingi kepahitan yang dideritanya. Tidak juga sebilah pisau tajam yang menyayat kulit putihnya itu mampu mengalahkan kepedihan di hati.
Rumah mewah hasil jerih payahnya kini apa artinya? Perhiasan yang berkilauan bertahtakan emas dan berlian apa gunanya? Mobil mewah dan nyaman yang setia membawanya pergi kemana saja apa manfaatnya kini? Di matanya semua adalah sia sia belaka, suatu kebohongan belaka. Diambilnya foto pernikahan mereka 11 tahun silam yang terbingkai manis dengan kayu mahogany dan dilapisi dengan kaca. Dilihatnya wajah laki-laki dalam foto itu, tersenyum bahagia sambil menggandeng tangan wanita di sampingnya dengan mesra dan erat seakan akan tak mau melepaskan dari genggamannya untuk selamanya. “PENIPU! SEMUA LAKI-LAKI PENIPU ULUNG!” jerit hatinya.”11 tahun penuh kebohongan. 11 tahun itu hanyalah sandiwara belaka. Sudah cukup. Sudah cukup.” Dengan jijik, dibantingnya dengan keras foto pernikahan mereka. Bingkai kacanya pecah berkeping-keping persis seperti hatinya yang hancur sekarang ini.
Suara pecahan yang riuh itu membangunkan gadis kecil yang tengah tertidur lelap. Dibukanya pintu kamarnya dengan pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara yang menganggu telinga. Dengan takut takut, dilihatnya ibunya terduduk lunglai tak berdaya seperti kehilangan jiwanya. Tetesan air mata dan tangis sesenggukan ibunya itu dilihat dan didengarnya dengan jelas. Gadis cilik itu pun bingung tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Kakinya yang mungil itu mulai bergetar oleh rasa ketakutan dan bingung.
Apa yang membuat seorang wanita kuat seperti ibunya menjadi seperti seorang yang enggan hidup? Apa yang membuat wanita yang mempunyai pikiran setajam tombak runcing,yang mempunyai pendirian yang keras, kesabaran dan kesetiaan seperti seorang anjing menunggu majikannya pulang kini seperti seorang yang kehilangan arah? Gadis cilik itu tidak dapat mengerti. Jika sesuatu yang mengerikan itu mampu menerpa hidup ibunya sedemikian rupa, bagaimana dengan dirinya yang lemah yang hanya mampu mencari perlindugan di dalam dekapan ibu tercintanya itu?
Perlahan-lahan dengan hati hati dan langkah yang gemetar, gadis cilik itu berjalan ke arah ibunya terduduk lemas. Dihindarinya pecahan pecahan kaca untuk menjaga keutuhan kulit kakinya. Sadar akan suara langkah mendekatinya, wanita itu menengadah ke arah gadis cilik itu. Disekanya air mata dari pipi dan matanya cepat-cepat. Ia tidak mau putri kesayangannya itu mengkuatirkan dia atau merasakan kepedihan ibunya.Wanita itu berusaha tersenyum ke arah putrinya. Dibelainya dengan lembut rambut putri semata wayangnya itu dengan berkata ”ibu tidak apa-apa, anakku. Ibu tidak apa-apa. Jangan takut. Lihat ..ibu tersenyum kan?” Gadis cilik itu hanya mengangguk pelan. Dilihatnya mata ibunya itu dalam-dalam seakan akan dia mempertanyakan kebenaran kata-kata ibunya barusan itu. Tangan halus dan kecilnya itu memberanikan diri untuk membelai pipi ibunya dan menyeka sisa-sisa air mata.
Gadis cilik itu tidak mengerti apa yang harus dia lalukan, tetapi dia tahu bahwa ibunya membutuhkan dia kini sama seperti saat dia membutuhkan ibunya ketika dia menangis terluka akibat jatuh dari sepeda. Teringatlah dia akan sentuhan halus ibunya mengobati lukanya dan suara lembutnya yang menenangkan jiwa ”luka luka pergilah, cepatlah engkau sembuh, aku tak akan kalah olehmu. Luka luka pergilah. Pergilah jauh-jauh dan jangan datang lagi.”
Dengan keluguan seorang gadis cilik, diusapnya dengan lembut dada ibunya tersebut tepat di mana hatinya yang teriris iris dan terluka itu berada. Lalu didekapnya dengan kuat kuat ibunya itu seakan-akan gadis itu tahu bahwa pelukannya membawa kesembuhan kalbu. Dan bernyanyilah gadis cilik itu semerdu malaikat ”Luka luka pergilah, cepatlah engkau sembuh, aku tak akan kalah olehmu. Luka luka pergilah. Pergilah jauh-jauh dan jangan datang lagi.”
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment