Thursday, August 23, 2007

My First Cerpen ! XD

Hello guys, ini cerpen pertamaku.. Walupun masih cupu, tapi harap dibaca dan kasih comment ya..kurang apa gituuuu..hehe..
Aniwei, gak usah banyak cingcong lagi, here it is:



Senyuman Malaikat


Kulihat jam elektronik yang digantung itu untuk sekian kalinya. “Masih 20 menit lagi?!” Umpatku dalam hati. “Sebal deh, selalu saja begini. Kalo aku lagi terburu-buru, kenapa seakan-akan semuanya bekerja sama untuk semakin memperlambat perjalananku?”

Iri deh sama orang-orang yang bawa mobil pribadi. Waktu mereka tidak terbuang percuma oleh proses tunggu-menunggu. Mereka juga tidak akan menggigil ato kipas2 kepanasan di kala musim winter atau summer. Cukup tinggal pencet tombol di dalam mobil super canggih mereka, angin dingin atau angin hangat akan keluar secara otomatis mendinginkan dan menghangatkan tubuh.

Ya sudahlah..apa boleh buat. Toh ini hanya sementara. Tiga hari lagi, aku bisa bebas pergi kemana saja dengan mobil kesayanganku. Tentu saja dengan design interiornya yang baru dan elegan. Tidak sabar hati ini untuk melihat tatapan iri teman-teman kerjaku ketika mereka melihat mobil lamaku yang baru.

2 Menit berlalu. Kaki ini rasanya sudah tidak kuat menyanggaku untuk berdiri dengan tegak, terlebih lagi aku memakai sepatu ber-hak 6cm. Walaupun cantik dan enak dipandang, sedikit demi sedikit, alas kaki ini berhasil memecahkan pembuluh darah di kakiku setiap menitnya.

Kulayangkan pandanganku menyapu setiap sudut ruangan, berdoa dalam hati Tuhan menyediakan satu bangku kosong untukku.

Seorang laki-laki tengah baya mencuri perhatianku. Rambut coklatnya yang panjang dibiarkan tergerai jatuh tepat di atas bahunya. Lengannya yang besar mengingatkanku pada daging paha ayam yang siap digoreng untuk makan malam nanti. T-shirt kekecilan yang dipakainya memperlihatkan tato bergambar malaikat kecil di sebelah lengan kanannya.

“Sungguh tato yang aneh,” pikirku. “Masa orang dengan muka segahar dan badan sebesar itu mempunyai tato yang berkonotasi lembut dan kecewe-cewean? Dunia semakin lama semakin tidak dimengerti saja.”

Kepalanya mengangguk-angguk seperti berusaha menikmati lagu yang sedang didengarkannya lewat i-pod putihnya itu. Dari penampilannya, aku menyimpulkan bahwa i-pod itu adalah benda termahal yang dimilikinya.

Tetapi bukan karena kenyataan kenyataan ini aku mulai memperhatikan pria ini. Melainkan oleh kenyataan bahwa pria ini telah mengambil hak orang lain di station tersebut dengan menempati setengah lebih daripada bangku itu. “Dasar gendut!” umpatku dalam hati. “Gara-gara kamu dan tubuh besarmu itu, aku harus menahan rasa sakit di kakiku untuk 18 menit lagi!” Kuhela napas panjang menahan kekecewaan dan kemarahan kepada pria tak bersalah itu.


Untuk mengalihkan rasa sakit di kakiku, aku mengeluarkan blackberry hitam dari tas Gucci pemberian hadiah ulang tahunku yang ke-22. Aku sangat berterima kasih kepada orang jenius yang menciptakan alat ini. Benda ini sangat berharga bagiku. Bagaimana tidak? Benda ajaib ini mengatur kehidupanku, menyelamatkanku dari penyakit pikun muda yang semakin merajalela di kota metropolitan seperti ini. Semua kegiatan sehari-hariku dan tanggal – tanggal penting, seperti ulang tahun dan rapat perusahaan, tercatat rapi di dalamnya. Benda ini bekerja sebagai asisten pribadi yang setia dan membantuku meniti karir dan memelihara hubungan sosial dengan teman-temanku.

“Damn!” Umpatku lagi. Ada apa sih dengan hari ini? Why is everything against me today? What is my fault? Bahkan Blackberry yang biasanya selalu setia menemaniku di kala aku lagi bosan pun sekarang enggan menjadi teman komplotanku.

“10 menit lagi…" Kenapa lama sekali sih rasanya? Emang paling tidak enak kalo menunggu dan gak ada kerjaan.” Omelku lagi. Kulayangkan lagi pandanganku ke arah pria malang yang menjadi sasaran kekesalanku tadi. Dia masih tengah asyik mendengarkan lagu-lagunya dan kulihat dia menghentak-hentakkan kakinya sekarang mengikuti irama.

5 Meter dari tempat pria itu, kulihat seorang nenek berjalan tertatih-tatih menuju ke arah bangku tersebut. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat kayu yang membantunya untuk menyangga badannya yang sudah rada membungkuk itu, dan tangan kirinya membawa bungkusan yang kelihatannya cukup berat untuk tubuh sekurus dan serapuh nenek itu. Melihatnya, aku langsung teringat kepada kertas note yang kuremas-remas tadi pagi di kantor. Kulitnya putih pucat dan kusut bak kulit jeruk.

“Aaaa tidakkkkk!!” Jeritku dalam hati. “Dalam 50 taun lagi apakah aku akan menjadi seperti nenek itu? Jelek, keriput, bongkok lagi. Agaknya besok aku harus check-up ke dokter kecantikan lagi, mungkin suntikan botox mampu mencegah timbulnya garis garis halus tanda penuaan di wajahku.”

Tiba-tiba kulihat pria gendut itu berdiri, dan mencopot ear-phone dari telinganya. Rasa senang muncul di hatiku, “akhirnya aku bisa duduk juga.” Baru selangkah, aku terhenti. Nenek itu sudah duduk dengan manis di atas bangku incaranku. Kulihat wajah nenek itu. Wajahnya yang keriput, menengadah ke atas melihat pria gendut itu. Dengan tersenyum tulus, nenek itu mengucapkan “thank you.” Ahh..gagal lagi deh usahaku untuk duduk.


Kurasakan darah mengalir deras menuju ke wajahku. Aku merasa diriku adalah orang yang paling kejam dan tidak berperasaan di dunia ini.

Dengan susah payah dia berjalan, terpincang pincang, setapak demi setapak, menyeret kaki besinya yang terlihat sangat berat itu. “Apa yang telah terjadi padanya?” Aku bertanya-tanya dalam hati. Imajinasiku melayang menggambarkan sejuta skenario peristiwa yang mungkin telah merebut kaki kanannya itu. Mungkin dia adalah seorang tentara yang terluka di medan perang, mungkin dia pernah berada di suatu kecelakaan lalu lintas yang cukup parah, mungkin dia mengidap penyakit diabetes sehingga kakinya harus diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya, mungkin dia pernah menolong seorang anak yang hampir tertabrak mobil dan mengorbankan dirinya untuk ditabrak dan harus kehilangan kakinya untuk selamanya. Seandainya aku yang punya kaki seperti itu, aku pasti tidak akan memberikan tempat duduk itu kepada orang lain. Bahkan aku tidak akan berbaik hati kepada seorang nenek jika kakiku sakit seperti sekarng ini.

Mata kami bertemu. Agaknya aku telah terlalu lama mengamati kaki pria tersebut sehingga dia menyadari keberadaanku. “Shit!” Aku berteriak dalam hati. “Jangan-jangan dia marah lagi...Mungkinkah dia mengetahui pikiran yang ada di kepalaku, mungkinkah dia merasa terhina oleh tatapan ibaku? Kalau begitu, apa yang harus aku jelaskan kepadanya?” Hatiku mulai berdetak dengan lebih kencang. Cepat-cepat kualihkan pandanganku ke arah lainnya menghindari tatapan matanya.

Pria tersebut tidak menghentikan langkahnya. Selangkah demi selangkah, dia semakin mendekatiku. Aku makin panik, tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya kukumpulkan semua keberanian yang aku punya berusaha menatap mata coklatnya lagi. Air mata hampir menetes di pipiku karena apa yang kulihat. Pria itu tersenyum. Senyuman yang tulus, tidak dibuat-buat seperti rekan kerjaku di kantor. Senyuman yang seakan-akan mampu menembus hatiku, mendamaikan seluruh isi jiwaku, sama seperti senyuman ibu ketika aku memijat pundaknya 20 tahun yang lalu. Senyuman seorang malaikat.

Aku ingin membalas senyumnya, ingin memberitahu bahwa apa yang dia lakukan adalah sungguh mulia. Tetapi rasanya bibir ini kaku, tidak bisa bergerak. Apakah aku telah melupakan cara untuk tersenyum? Apakah diriku ini telah kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan rasa bahagia?

Bulir-bulir air mata akhirnya meluncur deras di pipiku. Tanpa kusadari, aku telah berubah menjadi seorang manusia yang kejam dan self-centred, manusia yang tidak tahu rasa berterima kasih, manusia yang selalu menghakimi dan menilai dari segi fisikal dan mata uang.

Bunyi pengumuman tanda kereta hampir datang membuatku terkejut. Akhirnya kereta yang aku tunggu-tunggu datang juga. Angin yang ditimbulkan oleh lajunya kereta tersebut menyibak rambutku dengan halus. Rasa dinginnya tidak membuatku menggigil tetapi menyegarkan tubuhku. Pintu kereta terbuka. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalamnya. Tak kurasakan lagi sakit di kakiku. Yang ada hanyalah rasa damai memenuhi jiwa oleh karena sebuah senyuman malaikat.

Wednesday, August 15, 2007

-ONE-

I've been busy with couple of things lately. Well if you define busy as in 'you have this impending due assignments yet you still log in to msn , chatting with some couple of friends until 2am in the morning.' Yeah..I'm pretty much busy..Hahaha..

At this time, there are no surprises for those enrolled in Monash University : assignments mode is ON, everyone! It's the time where night becomes day and you have to support your biological system with the helps of caffeine because you don't sleep; and even though you do, you will find yourself drenched in sweats coz you have this nightmare of "your tutor gives you huge red F sign on your paper." Well, for me...this thing called assignment will definitely get in the way of my already-ruined biological clock and metabolism, and as the result, I will be cranky and much more moody.

Ok, let's talk about something interesting other than assignment. Lately, i've been trying to figure out myself (probably for the hundredth times now). Been talking to JJ about psychological and personality stuffs. He points out that I fall into sanguine type who loves to be in the centre of attention. An article mentions, "..attributes great importance to whatever he may be dealing with at the moment, but may have forgotten all about it the next. He means to keep his promises but fails to do so because he never considered enough beforehand whether he would be able to keep them.. He is easily fatigued and bored by work but is constantly engaged in mere games. Well those descriptions, I think, suit me very well! hahahaa...What do you think, guys? ;p

Next..Last Sunday , I was really craving for Moon Cake and asked some friends whether they knew about the Mooncake Festival date. And today, surprisingly, I saw a stall selling these delicious and yummy looking MoonCakes in Campus Centre. The temptations to buy the mooncake were almost irresistible, but my determination to lose weight warned me to be away from the stall..at least 200 metres away in radius. hhahahaa..

Aniway..I just realised that this post content is totally random! hahaha..Actually the purpose of writing this blog is for me to improve my no-good English. Although I'm currently enrolled in ARTS faculty, but my English qualification is just far below from everyone else's. That's one of reason why I will just sit quietly in the tutorial while listening to the locals talking endlessly, busily answering the teacher's question. I categorise those questions as i-dont-understand-and i-dont-care-what-question-you-are-asking-me...hahaha..maybe you think I'm such a helpless fellow,, but unfortunately that's the truth T______T
Well, to those who read this blog, Im begging you to correct any grammar or expression mistake..well, any weird sentences or anything you find wrong, just let me know through comments or any mediums.. hahahaha..thanx guys beforehand....

Yeah..definitely this is so random!! :P

Monday, August 6, 2007

the other one

She used to love dancing, drawing, and writing. She used to participate in many arts competitions and had won some of their trophies. These achievement obviously had molded her into some boastful vain creature and pain-in-the-ass fellow without knowing.

She would become a sweet daddy lil princess at home, but turned into this despicable ignorant brat when they were not around. To her and my surprise, there were some people who saint enough to befriend this know-it-all princess. I wonder why? Did they genuinely accept her as she was or gaining personal benefits by being with her? Were they drawn by her personality or her money? Were they drawn by her brain or her power? Only time that would be able to answer these kinds of questions.

The little princess grows as the clock's ticking away. She's no longer the heartless young lady she was used to be. Being away from her kingdom opens her eyes about the importance of relationship, the importance of friendship, and the importance of love. Aah yes... LOVE...the feeling that she had never experienced before.
Back then, she was too proud, too busy to feel the love of the people around her. The genuine love and care that people had been giving her. She was simply too engrossed in her own world full of lies and pretenses.

She's changed..yes..for the better...mm or not? She looks at her mirror, mending her smudged eyeliners and her lipgloss. She curls her long black-brownish hair with her fingers. Satisfied, she rises from her chair and digs up her wardrobe expecting to find a dress that may flatter her curvy figure. She cursed under her breath when she looks her appearance in the mirror. She promises herself that she will go on a diet, starving herself like the famous celebs for their hot skinny bodies though she knows that she will never be able to keep the promise.

Tired, she throws her bag and her books on the floor. She jumps to her bed and grabs her pilllows, hugs her bolster tightly as if it is love of her life. Suddenly, she rises to her feet and walks towards the mirror. She looks at the reflection in front of her. Something in her has changed. Something...but she doesn't know what she losses and gains. She is at loss when it comes to herself.

The princess stares at the black eyes of the girl in front of her. "Who are you?" she asks. She waits for the answer but only silence falls between them. "Who are you?" she asks again. This time the girl in front of her only smiles kindly back to the princess. "Who are you? Tell me, please!" The princess grows impatient and she demands an answer right now. The girl in front of her looks deeply into the princess' eyes, as if they are reassuring her that everything's gonna be just fine. Finally she says "You will know me soon, my dear. Soon..."

Saturday, August 4, 2007

timeline

2:08 Mel2 is now trying to figure out what post she should write in her new blog with its title "you, me and karung goni, but she is distracted by two ignorant guys who are now singing Glenn Fredly' Januari. One of the guys apparently is taking the efforts to distort the lyrics of the song, and the masterpiece successfully makes her becoming more annoyed.

2:18 Mel2 is still attempting to write her first post while she's still patiently listening to some nonsense conversation of the two guys who are actually desperately waiting for some technological installation to succeed.

2.25 The atmosphere is getting hotter since their supposed to be good technological device turns out to dissappoint them. Their patience is pushed to almost its limits.

2.29 Mel2 is really struggling to find the right and exact words to express her feelings and her thoughts into words of English and literature.

2.30 Mel2 is thinking maybe and most probably she has no talent in language or matters that require left brain process.

2.31 Wait...Mel2 is thinking that maybe she's no good in everything since she's no good in maths and music as well. Then what she's good at? Anybody kind enough to help her out, to tell her what the least she could do to boast her self esteem and to be useful person for the people around her?

2.34 She's questioning the most basic meaning of life "What's my purpose living in this earth?"

2.37 Mel2 is exhausted and ready to click the "publish post" button below.

2.38 She's still typing and typing.

2.39 and click...