Monday, February 4, 2008
second cerpen - nyanyian gadis cilik
Dihempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Diambilnya guling dan dirangkulnya erat erat seperti tidak mau kehilangan sesuatu lagi dari hidupnya. Dibenamkan kepalanya ke bantal dan meledaklah semua emosi yang dia benamkan selama dua hari terakhir ini. Air mata mengalir deras bak hujan deras turun dari langit yang membawa berkah bagi petani. Tiada yang mampu melukiskan rasa sakit hati yang dialami seorang wanita ketika dirinya dikhianati dan dibohongi oleh orang yang dicintai sepanjang hayatnya. Tiada yang mampu menandingi kepahitan yang dideritanya. Tidak juga sebilah pisau tajam yang menyayat kulit putihnya itu mampu mengalahkan kepedihan di hati.
Rumah mewah hasil jerih payahnya kini apa artinya? Perhiasan yang berkilauan bertahtakan emas dan berlian apa gunanya? Mobil mewah dan nyaman yang setia membawanya pergi kemana saja apa manfaatnya kini? Di matanya semua adalah sia sia belaka, suatu kebohongan belaka. Diambilnya foto pernikahan mereka 11 tahun silam yang terbingkai manis dengan kayu mahogany dan dilapisi dengan kaca. Dilihatnya wajah laki-laki dalam foto itu, tersenyum bahagia sambil menggandeng tangan wanita di sampingnya dengan mesra dan erat seakan akan tak mau melepaskan dari genggamannya untuk selamanya. “PENIPU! SEMUA LAKI-LAKI PENIPU ULUNG!” jerit hatinya.”11 tahun penuh kebohongan. 11 tahun itu hanyalah sandiwara belaka. Sudah cukup. Sudah cukup.” Dengan jijik, dibantingnya dengan keras foto pernikahan mereka. Bingkai kacanya pecah berkeping-keping persis seperti hatinya yang hancur sekarang ini.
Suara pecahan yang riuh itu membangunkan gadis kecil yang tengah tertidur lelap. Dibukanya pintu kamarnya dengan pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara yang menganggu telinga. Dengan takut takut, dilihatnya ibunya terduduk lunglai tak berdaya seperti kehilangan jiwanya. Tetesan air mata dan tangis sesenggukan ibunya itu dilihat dan didengarnya dengan jelas. Gadis cilik itu pun bingung tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Kakinya yang mungil itu mulai bergetar oleh rasa ketakutan dan bingung.
Apa yang membuat seorang wanita kuat seperti ibunya menjadi seperti seorang yang enggan hidup? Apa yang membuat wanita yang mempunyai pikiran setajam tombak runcing,yang mempunyai pendirian yang keras, kesabaran dan kesetiaan seperti seorang anjing menunggu majikannya pulang kini seperti seorang yang kehilangan arah? Gadis cilik itu tidak dapat mengerti. Jika sesuatu yang mengerikan itu mampu menerpa hidup ibunya sedemikian rupa, bagaimana dengan dirinya yang lemah yang hanya mampu mencari perlindugan di dalam dekapan ibu tercintanya itu?
Perlahan-lahan dengan hati hati dan langkah yang gemetar, gadis cilik itu berjalan ke arah ibunya terduduk lemas. Dihindarinya pecahan pecahan kaca untuk menjaga keutuhan kulit kakinya. Sadar akan suara langkah mendekatinya, wanita itu menengadah ke arah gadis cilik itu. Disekanya air mata dari pipi dan matanya cepat-cepat. Ia tidak mau putri kesayangannya itu mengkuatirkan dia atau merasakan kepedihan ibunya.Wanita itu berusaha tersenyum ke arah putrinya. Dibelainya dengan lembut rambut putri semata wayangnya itu dengan berkata ”ibu tidak apa-apa, anakku. Ibu tidak apa-apa. Jangan takut. Lihat ..ibu tersenyum kan?” Gadis cilik itu hanya mengangguk pelan. Dilihatnya mata ibunya itu dalam-dalam seakan akan dia mempertanyakan kebenaran kata-kata ibunya barusan itu. Tangan halus dan kecilnya itu memberanikan diri untuk membelai pipi ibunya dan menyeka sisa-sisa air mata.
Gadis cilik itu tidak mengerti apa yang harus dia lalukan, tetapi dia tahu bahwa ibunya membutuhkan dia kini sama seperti saat dia membutuhkan ibunya ketika dia menangis terluka akibat jatuh dari sepeda. Teringatlah dia akan sentuhan halus ibunya mengobati lukanya dan suara lembutnya yang menenangkan jiwa ”luka luka pergilah, cepatlah engkau sembuh, aku tak akan kalah olehmu. Luka luka pergilah. Pergilah jauh-jauh dan jangan datang lagi.”
Dengan keluguan seorang gadis cilik, diusapnya dengan lembut dada ibunya tersebut tepat di mana hatinya yang teriris iris dan terluka itu berada. Lalu didekapnya dengan kuat kuat ibunya itu seakan-akan gadis itu tahu bahwa pelukannya membawa kesembuhan kalbu. Dan bernyanyilah gadis cilik itu semerdu malaikat ”Luka luka pergilah, cepatlah engkau sembuh, aku tak akan kalah olehmu. Luka luka pergilah. Pergilah jauh-jauh dan jangan datang lagi.”
indo random stuffs
Ok. The first three days since my arrival in Surabaya, i had been put under emotional control test. My parents and my siblings annoyed me with their endless yellings, random contempts and mocks about my appearances, constant pressure to lose weight, continous commands and other stuffs I had not faced after 1 year. Melbourne had pampered my ears too much with beautiful music or comfortable silent and serenity. That's why for the first three days, the tissue box had been my pillow to company me going thru painful moments.
The pressure to lose weight had burdened me so much. I took the first step to limit my daily intake, and the next week i joined celebrity fitness, hired a personal instructor which cost me my shopping budget in indonesia for 3 months full! d*mn ! of course i had to miss all the good and cheap stuffs in indonesia. it's not a wise thing i know since if i go back to melb, ill buy stuffs without my mom knowing and it'll cost more. isnt right? haha..
Aniwei, for the next 2 months till today, i've been working my arse out. Doing cardio for 1 hour and push ups, press chest whatever, burning calories, cutting off my snacks, indonesian delicious meal, trying not to buy the tempting bread talks, and opening fridge as often. For all the painful hold-back and sweats, i only lost 4kg in total! FRUSTRATED? of course!!
now, im currently missing melbourne more than ever. Im super bored now. while writing this entry, im chatting with some friends, listening to the music of indian song of kuch2 hota hai which i've watched like 4 times already *gawd* and currently craving for terangbulang aka martabak manis! i hope my sis buy it for me in the way home.
ok people. that's all. my neck and my back is killing me. i think i should end this boring entry.
till we meet again. see you all . GBU
love,
melontong
Thursday, November 1, 2007
M&M Morning and Mac! ;)
Terlebih lagi kalo bangun siang, gw merasa kalo waktu berjalan dengan cepet sekali: eh tiba2 sudah sore, padahal belom mandi, belom makan, belom belajar. Eh tiba2 sudah jam 6, padahal belom mandi, belom makan, belom belajar, masih youtube-ing, facebook-ing, and hotmail-ing! Tetapi kalo pagi, gw merasa kalau hari itu lebih panjang dan bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna dan menyegarkan seperti jogging pagi hari atau ngobrol sama Tuhan Yesus. *grins*
Gw beberapa hari ini lagi cari data tentang mac. Sebenernya gw udah lama jatuh cinta sama mac dari dulu dulu, tetapi karena computer gw masih bisa berjalan dengan -lumayan- mulus pas itu, jadilah niat gw untuk beli mac diurungkan. Tetapi syukur kepada Tuhan, computer Compaq gw yang setia menemani gw selama 2 tahun ini suka mengambek dan suka meninggalkan gw di kala gw lagi sangat membutuhkan dia, jadinya gw punya excuse untuk mencari penggantinya yang lebih baik. Dan apalag kalo bukan MAC! hahaha..Setelah proses milih memilih yang lumayan panjang, akhirnya saya memutuskan untuk membeli Macbook 13 inch with 2.0 GZ! *taaddaaaa* Tetapi sedihnya sampe sekarng barangnya belom juga gw purchase. Lho kenapa? Pertamanya gw ragu mau beli di OZ karena kalo beli di US jadi lebih murah banyak. Kedua, gw ga yakin kalo Mac yang baru bakalan dilengkapin oleh MC Os Leopard system yang baru, dan ketiga dollar OZ naiiiiiiikkk! ADohhh pusinnggg deehh...Australian dollars beberapa bulan terakhir menguat terus menerus, menembus angka Rp 8400 hari ini. Gimana gak senewen? AuS dollar and US dollar udah kayak gak ada bedanya gitu, mending gw cabut deh dari Oz terus sekolah di US aja kalo gini! hahahahahaa..ya begitulah, akhirnya saya harus menunda2 untuk membeli Macbook yang telah diidam-idamkan!
Ngomong -omong tentang Mac Leopard sytem, gw malu abis gara2 ini. Ceritanya, kemaren lusa gw telpon ke Mac customer service gituh.
Bule: Can I help you?
Mel: Yes, I'm just wondering whether the new Mac does come with the Leopard system (*spell: le-yo-paart)
Bule: Sorry, what?
Mel: The Leopard system (*spell: le-yo-paart)
Bule: Sorry mam, I can't hear you because of the noise here
Mel: Yeah, The Leopard system. Uhhmm you know, in Mac.. There's this Mac Os Tiger 04, and this year they have Mac Os Leopard (*spell: le-yo=paart) 05 .
Bule: Sorry, I still dont understand
Mel: Ok *sigh* Leopard system! Leopard! *Now I was saying to him slowly and clearly *LE YO PAART*
Bule: sorry? *confused and baffled*
Mel: You know L-E-O-P-A-R-D
Bule: Oohh you mean Leopard system (*spell le-pae-art) *chuckling*
Mel: Yes yes that.
Bule: *trying hard not to laugh* Yes, it does come with the Leopard system (*spell le-pae-art)
Mel: Oh ok, sorry I could not pronounce it correctly *embarrassed and a bit irritated to the fact he was laughing at me*
Mel: Ok, thanks for your help.
*CLICK*
Dasar buleee, sorry deh gw gak bisa pronounce correctly, tapi jangan ketawa gitu dong. Bikin gw merasa malu ajaaa...mungkin lo mikir "bloody asians! What in the world is LEYOPART? Who would understand that!? Tapi sorry yahh, i can speak two languages, and you can only speak 1! *bisa aja sih dia orang greek yang happens to be speaking italiano too..oh well* hahahaha..tapi yaa itung2 pengalaman lahh, inggris gw jadi lebih bagus dehH! hahaha..
Ya udah segini dulu, nantikan updates saya selanjutnya. Tetep baca ywahh! GBU all :)
Wednesday, October 17, 2007
diary gak penting
8am: Mel2 masih di ranjang, merasakan perutnya sakit, gulung2 di atas ranjang, ke kanan dan ke kiri. Badan diringkukkan, menahan sakit..lalu keluarlah gas beracun! *oooppsss, i did it again*
Merasakan sakit perut yang sangat, akhirnya Mel2 melawan rasa kantuknya. Disisihkannya selimut hangat yang membungkus tubuhnya sepanjang malam, dan segera ia beranjak dari atas kasurnya yang nyaman.
8.15am: Mel2 tahu sekarang dia dalam masalah. Segera dia mencari obat berwarna kuning itu. Obat pemberian seorang tetangga. Setelah menemukannya, dia mengambil 1 butir daripada obat itu, lalu menelannya *gluk* dan kembali mel2 tidur seperti babi.
11.15am: Mel2 kembali bangun, merasakan kembali sakit perut yang menerpanya tadi pagi. Kembali dia beranjak dari kasurnya dan pergi ke tempat pelepasan. Di sana, dia merenungi dan menyesal apa yang telah dia perbuat kemaren. "Coba kemaren aku gak makan campur2: Nasi goreng, curry, and bubble tea. Tapi enak juga sih kemaren." *$@#$#!*
11.30am: Mel2 berusaha untuk menghubungi orang2 terdekatnya. Di dalam ketakutannya, dia berharap bahwa seseorang akan menenangkan dirinya, akan berkata kepadanya bahwa semua akan baik2 saja.
Nada di seberang terdengar kuatir dan sedikit panik. "Mel, sudah sana ke dokter! Beli obat! Minum pocari sweat banyak! Tidak usah ke sekolah!" Mel2 jadi senang atas semua perhatian yang diberikan oleh suara di seberang. Terlebih dia lebih suka lagi dengan kata2 "tidak usah sekolah", tetapi perutnya semakin meronta seakan mencabik2 dinding ususnya.
11.40am: Mel2 kembali tidur. Tetapi kali ini dia tidak tidur seperti babi melainkan tidur seperti tentara di tengah perang. Gelisah, kesakitan, dan ketakutan. Tapi akhirnya dia berhasil tidur selama 3setengah jam.
Selama 4-5 jam ke depan, Mel2 masih merasakan stomach cramp dan mules2, alhasil dia bolak balik ke tempat pelepasan selama banyak kali! hahahaha *i dont want to specifiy this*
PS: ada yang tau ga di mana dijual POCARI SWEAT?
Thursday, August 23, 2007
My First Cerpen ! XD
Aniwei, gak usah banyak cingcong lagi, here it is:
Kulihat jam elektronik yang digantung itu untuk sekian kalinya. “Masih 20 menit lagi?!” Umpatku dalam hati. “Sebal deh, selalu saja begini. Kalo aku lagi terburu-buru, kenapa seakan-akan semuanya bekerja sama untuk semakin memperlambat perjalananku?”
Iri deh sama orang-orang yang bawa mobil pribadi. Waktu mereka tidak terbuang percuma oleh proses tunggu-menunggu. Mereka juga tidak akan menggigil ato kipas2 kepanasan di kala musim winter atau summer. Cukup tinggal pencet tombol di dalam mobil super canggih mereka, angin dingin atau angin hangat akan keluar secara otomatis mendinginkan dan menghangatkan tubuh.
Ya sudahlah..apa boleh buat. Toh ini hanya sementara. Tiga hari lagi, aku bisa bebas pergi kemana saja dengan mobil kesayanganku. Tentu saja dengan design interiornya yang baru dan elegan. Tidak sabar hati ini untuk melihat tatapan iri teman-teman kerjaku ketika mereka melihat mobil lamaku yang baru.
2 Menit berlalu. Kaki ini rasanya sudah tidak kuat menyanggaku untuk berdiri dengan tegak, terlebih lagi aku memakai sepatu ber-hak 6cm. Walaupun cantik dan enak dipandang, sedikit demi sedikit, alas kaki ini berhasil memecahkan pembuluh darah di kakiku setiap menitnya.
Kulayangkan pandanganku menyapu setiap sudut ruangan, berdoa dalam hati Tuhan menyediakan satu bangku kosong untukku.
Seorang laki-laki tengah baya mencuri perhatianku. Rambut coklatnya yang panjang dibiarkan tergerai jatuh tepat di atas bahunya. Lengannya yang besar mengingatkanku pada daging paha ayam yang siap digoreng untuk makan malam nanti. T-shirt kekecilan yang dipakainya memperlihatkan tato bergambar malaikat kecil di sebelah lengan kanannya.
“Sungguh tato yang aneh,” pikirku. “Masa orang dengan muka segahar dan badan sebesar itu mempunyai tato yang berkonotasi lembut dan kecewe-cewean? Dunia semakin lama semakin tidak dimengerti saja.”
Kepalanya mengangguk-angguk seperti berusaha menikmati lagu yang sedang didengarkannya lewat i-pod putihnya itu. Dari penampilannya, aku menyimpulkan bahwa i-pod itu adalah benda termahal yang dimilikinya.
Tetapi bukan karena kenyataan kenyataan ini aku mulai memperhatikan pria ini. Melainkan oleh kenyataan bahwa pria ini telah mengambil hak orang lain di station tersebut dengan menempati setengah lebih daripada bangku itu. “Dasar gendut!” umpatku dalam hati. “Gara-gara kamu dan tubuh besarmu itu, aku harus menahan rasa sakit di kakiku untuk 18 menit lagi!” Kuhela napas panjang menahan kekecewaan dan kemarahan kepada pria tak bersalah itu.
Untuk mengalihkan rasa sakit di kakiku, aku mengeluarkan blackberry hitam dari tas Gucci pemberian hadiah ulang tahunku yang ke-22. Aku sangat berterima kasih kepada orang jenius yang menciptakan alat ini. Benda ini sangat berharga bagiku. Bagaimana tidak? Benda ajaib ini mengatur kehidupanku, menyelamatkanku dari penyakit pikun muda yang semakin merajalela di
“Damn!” Umpatku lagi. Ada apa sih dengan hari ini? Why is everything against me today? What is my fault? Bahkan Blackberry yang biasanya selalu setia menemaniku di kala aku lagi bosan pun sekarang enggan menjadi teman komplotanku.
“10 menit lagi…" Kenapa lama sekali sih rasanya? Emang paling tidak enak kalo menunggu dan gak ada kerjaan.” Omelku lagi. Kulayangkan lagi pandanganku ke arah pria malang yang menjadi sasaran kekesalanku tadi. Dia masih tengah asyik mendengarkan lagu-lagunya dan kulihat dia menghentak-hentakkan kakinya sekarang mengikuti irama.
5 Meter dari tempat pria itu, kulihat seorang nenek berjalan tertatih-tatih menuju ke arah bangku tersebut. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat kayu yang membantunya untuk menyangga badannya yang sudah rada membungkuk itu, dan tangan kirinya membawa bungkusan yang kelihatannya cukup berat untuk tubuh sekurus dan serapuh nenek itu. Melihatnya, aku langsung teringat kepada kertas note yang kuremas-remas tadi pagi di kantor. Kulitnya putih pucat dan kusut bak kulit jeruk.
“Aaaa tidakkkkk!!” Jeritku dalam hati. “Dalam 50 taun lagi apakah aku akan menjadi seperti nenek itu? Jelek, keriput, bongkok lagi. Agaknya besok aku harus check-up ke dokter kecantikan lagi, mungkin suntikan botox mampu mencegah timbulnya garis garis halus tanda penuaan di wajahku.”
Tiba-tiba kulihat pria gendut itu berdiri, dan mencopot ear-phone dari telinganya. Rasa senang muncul di hatiku, “akhirnya aku bisa duduk juga.” Baru selangkah, aku terhenti. Nenek itu sudah duduk dengan manis di atas bangku incaranku. Kulihat wajah nenek itu. Wajahnya yang keriput, menengadah ke atas melihat pria gendut itu. Dengan tersenyum tulus, nenek itu mengucapkan “thank you.” Ahh..gagal lagi deh usahaku untuk duduk.
Kurasakan darah mengalir deras menuju ke wajahku. Aku merasa diriku adalah orang yang paling kejam dan tidak berperasaan di dunia ini.
Dengan susah payah dia berjalan, terpincang pincang, setapak demi setapak, menyeret kaki besinya yang terlihat sangat berat itu. “Apa yang telah terjadi padanya?” Aku bertanya-tanya dalam hati. Imajinasiku melayang menggambarkan sejuta skenario peristiwa yang mungkin telah merebut kaki kanannya itu. Mungkin dia adalah seorang tentara yang terluka di medan perang, mungkin dia pernah berada di suatu kecelakaan lalu lintas yang cukup parah, mungkin dia mengidap penyakit diabetes sehingga kakinya harus diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya, mungkin dia pernah menolong seorang anak yang hampir tertabrak mobil dan mengorbankan dirinya untuk ditabrak dan harus kehilangan kakinya untuk selamanya. Seandainya aku yang punya kaki seperti itu, aku pasti tidak akan memberikan tempat duduk itu kepada orang lain. Bahkan aku tidak akan berbaik hati kepada seorang nenek jika kakiku sakit seperti sekarng ini.
Mata kami bertemu. Agaknya aku telah terlalu lama mengamati kaki pria tersebut sehingga dia menyadari keberadaanku. “Shit!” Aku berteriak dalam hati. “Jangan-jangan dia marah lagi...Mungkinkah dia mengetahui pikiran yang ada di kepalaku, mungkinkah dia merasa terhina oleh tatapan ibaku? Kalau begitu, apa yang harus aku jelaskan kepadanya?” Hatiku mulai berdetak dengan lebih kencang. Cepat-cepat kualihkan pandanganku ke arah lainnya menghindari tatapan matanya.
Pria tersebut tidak menghentikan langkahnya. Selangkah demi selangkah, dia semakin mendekatiku. Aku makin panik, tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya kukumpulkan semua keberanian yang aku punya berusaha menatap mata coklatnya lagi. Air mata hampir menetes di pipiku karena apa yang kulihat. Pria itu tersenyum. Senyuman yang tulus, tidak dibuat-buat seperti rekan kerjaku di kantor. Senyuman yang seakan-akan mampu menembus hatiku, mendamaikan seluruh isi jiwaku, sama seperti senyuman ibu ketika aku memijat pundaknya 20 tahun yang lalu. Senyuman seorang malaikat.
Aku ingin membalas senyumnya, ingin memberitahu bahwa apa yang dia lakukan adalah sungguh mulia. Tetapi rasanya bibir ini kaku, tidak bisa bergerak. Apakah aku telah melupakan cara untuk tersenyum? Apakah diriku ini telah kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan rasa bahagia?
Bulir-bulir air mata akhirnya meluncur deras di pipiku. Tanpa kusadari, aku telah berubah menjadi seorang manusia yang kejam dan self-centred, manusia yang tidak tahu rasa berterima kasih, manusia yang selalu menghakimi dan menilai dari segi fisikal dan mata uang.
Bunyi pengumuman tanda kereta hampir datang membuatku terkejut. Akhirnya kereta yang aku tunggu-tunggu datang juga. Angin yang ditimbulkan oleh lajunya kereta tersebut menyibak rambutku dengan halus. Rasa dinginnya tidak membuatku menggigil tetapi menyegarkan tubuhku. Pintu kereta terbuka. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalamnya. Tak kurasakan lagi sakit di kakiku. Yang ada hanyalah rasa damai memenuhi jiwa oleh karena sebuah senyuman malaikat.
Wednesday, August 15, 2007
-ONE-
At this time, there are no surprises for those enrolled in Monash University : assignments mode is ON, everyone! It's the time where night becomes day and you have to support your biological system with the helps of caffeine because you don't sleep; and even though you do, you will find yourself drenched in sweats coz you have this nightmare of "your tutor gives you huge red F sign on your paper." Well, for me...this thing called assignment will definitely get in the way of my already-ruined biological clock and metabolism, and as the result, I will be cranky and much more moody.
Ok, let's talk about something interesting other than assignment. Lately, i've been trying to figure out myself (probably for the hundredth times now). Been talking to JJ about psychological and personality stuffs. He points out that I fall into sanguine type who loves to be in the centre of attention. An article mentions, "..attributes great importance to whatever he may be dealing with at the moment, but may have forgotten all about it the next. He means to keep his promises but fails to do so because he never considered enough beforehand whether he would be able to keep them.. He is easily fatigued and bored by work but is constantly engaged in mere games. Well those descriptions, I think, suit me very well! hahahaa...What do you think, guys? ;p
Next..Last Sunday , I was really craving for Moon Cake and asked some friends whether they knew about the Mooncake Festival date. And today, surprisingly, I saw a stall selling these delicious and yummy looking MoonCakes in Campus Centre. The temptations to buy the mooncake were almost irresistible, but my determination to lose weight warned me to be away from the stall..at least 200 metres away in radius. hhahahaa..
Aniway..I just realised that this post content is totally random! hahaha..Actually the purpose of writing this blog is for me to improve my no-good English. Although I'm currently enrolled in ARTS faculty, but my English qualification is just far below from everyone else's. That's one of reason why I will just sit quietly in the tutorial while listening to the locals talking endlessly, busily answering the teacher's question. I categorise those questions as i-dont-understand-and i-dont-care-what-question-you-are-asking-me...hahaha..maybe you think I'm such a helpless fellow,, but unfortunately that's the truth T______T
Well, to those who read this blog, Im begging you to correct any grammar or expression mistake..well, any weird sentences or anything you find wrong, just let me know through comments or any mediums.. hahahaha..thanx guys beforehand....
Yeah..definitely this is so random!! :P
Monday, August 6, 2007
the other one
She would become a sweet daddy lil princess at home, but turned into this despicable ignorant brat when they were not around. To her and my surprise, there were some people who saint enough to befriend this know-it-all princess. I wonder why? Did they genuinely accept her as she was or gaining personal benefits by being with her? Were they drawn by her personality or her money? Were they drawn by her brain or her power? Only time that would be able to answer these kinds of questions.
The little princess grows as the clock's ticking away. She's no longer the heartless young lady she was used to be. Being away from her kingdom opens her eyes about the importance of relationship, the importance of friendship, and the importance of love. Aah yes... LOVE...the feeling that she had never experienced before.
Back then, she was too proud, too busy to feel the love of the people around her. The genuine love and care that people had been giving her. She was simply too engrossed in her own world full of lies and pretenses.
She's changed..yes..for the better...mm or not? She looks at her mirror, mending her smudged eyeliners and her lipgloss. She curls her long black-brownish hair with her fingers. Satisfied, she rises from her chair and digs up her wardrobe expecting to find a dress that may flatter her curvy figure. She cursed under her breath when she looks her appearance in the mirror. She promises herself that she will go on a diet, starving herself like the famous celebs for their hot skinny bodies though she knows that she will never be able to keep the promise.
Tired, she throws her bag and her books on the floor. She jumps to her bed and grabs her pilllows, hugs her bolster tightly as if it is love of her life. Suddenly, she rises to her feet and walks towards the mirror. She looks at the reflection in front of her. Something in her has changed. Something...but she doesn't know what she losses and gains. She is at loss when it comes to herself.
The princess stares at the black eyes of the girl in front of her. "Who are you?" she asks. She waits for the answer but only silence falls between them. "Who are you?" she asks again. This time the girl in front of her only smiles kindly back to the princess. "Who are you? Tell me, please!" The princess grows impatient and she demands an answer right now. The girl in front of her looks deeply into the princess' eyes, as if they are reassuring her that everything's gonna be just fine. Finally she says "You will know me soon, my dear. Soon..."